Beberapa bulan yang lalu, saya mencari majalah Mata baca di sebuah toko buku besar. Saya menanyakan majalah itu pada pramuniaga yang bertugas di bagian majalah. Jawabannya adalah,"majalahnya tidak ada." Saya tidak yakin, kalau majalah itu tidak ada. Saya pun mencarinya sendiri. Dan.. ketemu! Saya pun memperlihatkan majalah itu pada pramuniaga itu. "Nih, ada kan?" kata saya. Dia hanya berdiri dan tidak mengatakan apa-apa. Beberapa waktu yang lalu di toko buku yang sama, saya mendengar seorang ibu marah-marah di depan petugas Customer Service. Suaranya cukup keras untuk menarik perhatian pengunjung toko, termasuk saya. "Jangan asal bilang tidak ada, dong!" bentak ibu yang membawa anaknya itu. "Ya, Bu," sahut petugas Customer Service itu. Kemarahan sang ibu masih berkepanjangan, sehingga saya pun menyingkir. Tapi saya hampir yakin, kalau apa yang pernah saya alami, terjadi pada ibu itu. Mungkin saat itu mood-nya sedang jelek, sehingga kemarahannya meledak. Beberapa minggu yang lalu, saya mencari buku di tempat yang sama. Saya hendak membelikan kado untuk teman saya yang berulang tahun. Saya menanyakan buku tersebut pada seorang pemuda yang bertugas di sana. "Wah, bukunya tidak ada. Dalam seri ini hanya ada 3 judul, lihat saja di belakang sampul buku," katanya. "Jangan bilang seperti itu dulu. Dua minggu yang lalu, saya mendapatkan buku itu di sini. Semuanya ada 6 judul," kata saya. Dia bersikeras seri itu hanya ada 3 judul. Saya mulai kesal. Lalu saya ajak pramuniaga itu ke komputer. Saya ketikkan kata kunci, dan keluarlah judul-judul buku yang saya cari, ada 6 judul. Sedangkan jumlah masing-masing tinggal sedikit. "Ada, kan? Sekarang, di mana saya harus mencari" tanya saya. "Bu, jumlah buku itu kan tinggal satu. Kalau tinggal satu kan susah mencarinya," katanya. Waduh! Saya pikir, orang ini kok tidak mau menjalankan tugasnya untuk membantu pengunjung, yang jelas-jelas mau membeli buku. Akhirnya saya cari buku-buku itu di rak dan dapat! Saya mencari petugas yang membuat saya kesal itu, ya untuk memperlihatkan buku yang saya temukan. Tapi orangnya sudah tidak ada. Akhirnya saya datang ke meja Customer Service. Saya bertanya pada petugas di sana, apa mau mendengar keluhan saya? Petugas itu sangat ramah dan mendengarkan cerita saya dari awal sampai akhir. Dia menanyakan siapa identitas pramuniaga itu. Saya bilang tidak tahu dan saya juga tidak memberikan ciri-cirinya. Takut kalau orang itu diberi sanksi yang sangat berat, sehingga ia bisa kehilangan pekerjaan. "Tapi tak semua petugas mengecewakan, lho. Beberapa minggu yang lalu, ada petugas yang sampai mengeluarkan semua buku dari laci, hanya untuk mencari buku yang saya beli. Saya merasa tertolong sekali dengan petugas yang seperti itu. Yang saya heran, mengapa pelayanannya tidak standar, ya? Ada yang sangat menolong dan ada yang gampang saja mengatakan tidak ada," kata saya pada petugas Custumer Service. Petugas itu menampung semua saran saya dengan baik. Dan dia sangat berterima kasih atas masukan yang saya berikan. "Tolong, jangan kapok ke sini lagi, ya," pintanya. Saat saya membayar buku di kasir, petugas Customer Service itu membawa sebuah buku. "Apakah Ibu ingin membawa buku ini?" tanyanya. "Apakah itu buat saya?" tanya saya. Petugas itu mengiyakan dengan ramah. Hmm.. gara-gara menyampaikan complain, saya mendapat buku. Walaupun buku itu tidak saya perlukan, tapi saya tetap saya terima. Ya, untuk mengingatkan saya pada kejadian itu dan buku cantik itu bisa saya hadiahkan pada teman saya yang suka membuat kue. Kalau soal kapok ke toko buku itu? Ya, enggak mungkinlaaah... Saya kan sangat suka buku dan koleksi di sana lumayan lengkap. Tapi tentu saja, saya ingin saya dibantu untuk mencari buku yang saya butuhkan.
Coba lihat foto tukang becak di sini. Lumayan ganteng, kan? Tukang becak ini namanya Ananda. Dia adalah tukang becak di Yogya. Tapiii... dia cuma jadi tukang becak selama sehari, mengantar satu dua penumpang, termasuk Jubing yang membawa gitar. Ya, Ananda hanya berperan sebagai sebagai tukang becak dalam video klip "Becak Fantasy" dalam album "Becak Fantasy" yang diluncurkan pertengahan 2007 lalu. Video klip ini pernah sering diputar di MTV tahun lalu. Saat pertama kali mendengar dia mau jadi tukang becak, saya agak ragu. Apa pantes? pikir saya. Habis enggak ada potongan sama sekali. Orangnya good looking (bukan berarti enggak ada tukang becak beneran yang good looking) dan badannya jangkung, sejangkung Jubing yang tingginya 1,8 m (Bukan berarti enggak ada tukang becak yang jangkung). Tapi saya memang belum pernah melihat tukang becak yang jangkung dan good looking. Tapi setelah dia mengatakan," Ren, aku mau masuk teve nih. Jadi tukang becak di video klipnya Jubing." Baru saya yakin. Ananda ini berteman dengan Jubing sejak sama-sama sekolah di SMA Loyola Semarang. Profesinya MC dan punya usaha EO di Bandung. Tapi pekerjaan bisa membuatnya berpergian ke mana saja, termasuk ke Yogya. Ananda adalah teman yang menyenangkan. Dia ceria, cerewet, dan enggak pernah kehabisan energi untuk bersikap ramah. Saya sering terkagum-kagum melihat aura hangat Ananda pada setiap orang. Dia beberapa kali berduet dengan Jubing dalam acara-acara, misalnya Kompas Gramedia Fair di Jakarta (2006) dan peluncuran buku Benny dan Mice (2008). Kalau Ananda dan Jubing berduet, pasti rame dan kocak. Ya, Ananda MC-nya dan Jubing main gitar dong! Coba lihat lagi foto di sini. Menurut teman-teman, pantes enggak ya, Ananda jadi tukang becak?
  Selasa (20/5) saya dan Jubing pergi ke Teater Studio di Taman Ismail Marzuki. Kami mendapat dua undangan dari Henry Ismono (wartawan Nova), salah satu panitia Pementasan Musik Leo Kristi dkk, dalam rangka Seabad Kebangkitan Indonesia. Undangannya bernuansa merah, putih dan hitam. Saya tahu, Leo Kristi adalah salah satu seniman hebat yang dimiliki Indonesia. Lagu-lagunya sangat patriotik. Saya pernah melihatnya menyanyi di TVRI. Seingat saya, Leo senang berpakaian serba hitam di setiap konsernya. Rasa ingin tahu membuat saya semangat menonton pertunjukannya. Teater Studio penuh oleh calon penonton. Kata Henry, penonton yang punya undangan yang akan dipersilakan masuk lebih dulu. Yang tidak punya undangan masuk belakangan. Kalau pun gedung terlalu penuh, di luar ruang pertunjukan sudah tersedia layar lebar dan karpet untuk lesehan. Nah, karena punya undangan, saya dan Jubing dapat tempat duduk yang enak. Pertunjukan dimulai... Sebuah grup yang terdiri dari anak-anak muda membuka acara. Setelah beberapa lagu, tampillah Leo Kristi. Saya bayangkan, Leo akan berpakaian hitam-hitam. Ternyata saya salah. Leo memakai jaket hitam mengkilat dan celana panjang keperakan! Mengejutkan... Gambaran di benak saya tentang Leo yang misterius langsung buyar. Apalagi beliau berpidato panjang sekali, sebelum menyanyikan lagu. Ya itu membuat beberapa penonton nyeletuk, tak sabar ingin mendengarnya segera bernyanyi. Setelah ditunggu, beberapa lagu mengalir. Tapi pertunjukan yang menarik adalah saat para L Kers (pencinta karya-karya Leo Kristi) menyanyi. Para L Kers tampil dengan pakaian bernuansa hitam dan mereka menyanyi dengan keren. Tak lama kemudian Leo tampil bersama mereka. Kali itu dia membuat kejutan lagi. Masih dengan celana keperakan, Leo memakai jaket pink berbulu, sehingga penampilannya seperti orang Eskimo. Dan ketika tudungnya dibuka, Leo mengenakan helm warna hijau. Wow! Dan.. helm itu tetap dipakainya sampai nyanyian terakhir. Menurut saya sih, acara pertunjukan itu sukses. Saya sangat terhibur. Leo Kristi dan L Kers tampil keren. Saya suka lagu-lagunya. Lagu yang saya tunggu-tunggu adalah "Gulagalugu Suara Nelayan". dan saya sudah melihat dan mendengarnya langsung, asyik sekali. Hanya saja saya agar terkejut dengan kostum yang dipakai Leo di panggung, kostum yang membuat saya dan penonton lain terus tersenyum. Ya.. lucu sih... Esoknya saya menemui Henry untuk mengucapkan terima kasih atas undangan yang diberikan. Dan.. saya mendengar banyak cerita dari Henry yang pengagum karya-karya Leo, tentang seputar pertunjukan itu. Foto-foto : - Saya dan Jubing bertemu Bang Remi Soetansyah - Layar lebar di luar ruang pertunjukan - Leo Kristi dan L Kers tampil memukau
Kalau kita kelebihan berat badan, terus berat kita turun, pasti senang dong. Apalagi dokter sudah menyarankan demikian, demi alasan kesehatan. Itu yang terjadi pada saya. Senang sih senang, apalagi turunnya bertahap (butuh waktu berbulan-bulan), tidak langsing seketika. Tapi begitu badan benar-benar sudah langsing, saya bingung juga. Semua celana panjang rasanya kedodoran. Pokoknya enggak mungkin dipakai. Sampai-sampai saya harus membeli beberapa celana panjang dan pakaian sekaligus, karena semua celana panjang saya sudah terlalu besar. Kemeja dan blus kelihatan seperti baju pinjaman. Sebagai jalan keluar, saya kirim baju-baju berukuran besar itu ke Bandung, untuk ditaruh di lemari saya di sana. Lalu saya ambil baju-baju berukuran lebih kecil dari sana untuk saya pakai. Untung saya masih menyimpannya. Tapi kan jumlahnya terbatas. Wah siap-siap deh memakai baju itu lagi itu lagi. Untunglah, itu tak perlu terjadi karena kedatangannya. Dialah penjahit keliling bersepeda. Para tetangga saya adalah langganannya. Maka saya bawa beberapa celana panjang saya. Yang dikecilkan ukuran pinggangnya saja. Di lain waktu, saya bawa kemeja dan blus yang kedodoran untuk dikecilkan. Dan.. saya pun punya baju lama dengan ukuran baru. Tapi rasa senangnya serasa dapat baju baru. Penjahit keliling, terima kasih banyaaaak... Kalau seseorang punya sedikit modal,keterampilan, dan semangat seperti penjahit keliling itu, tidak ada alasan untuk tidak mendapat uang. Ongkos permak satu pakaian memang murah, tapi saya lihat banyak sekali yang menggunakan jasanya. Jadi orang-orang seperti itu bisa tetap survive di tengah negeri yang sedang sulit ini.
Jalan raya di depan kantor saya lumayan menakutkan untuk disebrangi. Sudah lama kami merindukan tempat penyeberangan jalan. Usulan sudah dilontarkan. Tapi tetep saja keadaan enggak berubah. Katanya, tempat penyeberangan jalan terlalu dekat dengan lampu merah. Lampu merah? Itu bukan lampu merah. Itu tidak sepenuhnya lampu merah. Karena separuh jalan lampunya kuning kedip-kedip. Kalau mau menyeberang harus ekstra hati-hati. Kasihan orang-orang yang sedang sakit, sudah tua, atau yang membawa anak-anak. Kalau saya sangat pusing, saya enggak berani nyeberang. Lebih baik naik taksi atau angkot walau cuma buat puter balik dan dekat. Coba tempat itu 100% lampu merah, pasti lebih baik walau tidak 100% aman, karena selalu saja ada yang coba menerobos lampu merah. Ketika jalan depan kantor menjadi salah satu koridor busway, kami bertanya-tanya, di manakah letak haltenya. beberapa waktu kemudian kami tahu, letaknya tak jauh dari kantor kami. Wah, saya dan teman-teman senang sekali. Itu berarti, kami tak akan jauh dari tempat penyeberangan jalan. Tapi belakangan kami tahu, kalau halte di dekat kantor kami tak memakai tempat penyeberangan jalan. Saya pernah tanya pada salah seorang petugas di sana, dia menjawab," tempat ini terlalu sempit untuk dibuat tempat penyeberangan jalan." Benarkah? Jawaban yang cukup meragukan. Saya dan teman-teman sering melintasi jalan antara jalan Panjang (daerah RCTI) dan Lebak Bulus, semua hatle busway ada tempat penyeberangannya. Kami juga melihat trotoar-trotoar di sepanjang jalan. Ada yang sangat sempit. Dan.. di sana dibangun jembatan penyeberangan! Kok di dekat kantor kami tidak, ya? Apa pertimbangannya? Padahal halte yang tak ada jembatan penyeberangannya ini adalah daerah perkantoran yang sibuk. Ada RCTI, Wisma AKR, Gedung Gramedia, Multikon, dan banyak lagi. Harapan yang menggunung, perlahan memudar. Keadaan akan tetap sama dalam menyeberang jalan. Atau tidak? Hadirnya busway pasti akan punya cerita sendiri. Hilang sudah harapan untuk bisa menyanyi sambil menyeberang. Bahkan teman saya ingin menyeberang sambil bersiul, tanpa rasa takut. Dan itu masih belum mungkin, kecuali keadaan berubah. Dan... pertugas berseragam biru di kantor kami akan tetap sibuk, menyeberangkan para ibu yang ingin menyeberang (kalau bapak-bapak kayaknya gengsi ya minta tolong mereka). Kasihan mereka, setiap saat mempertaruhkan nyawa untuk menyeberangkan orang-orang. Ya, walau itu bagian dari tugas mereka. Mengecewakan memang. Tapi saya tetap menyimpan harapan, tempat penyeberangan yang aman dan nyaman akan ada di sana.
Pagi ini tukang koran mengantarkan Kompas. Langsung terbaca headline utama..
Wapres : BBM Naik Akhir Mei
Jubing yang akan pergi mengajar gitar, sempat melihat koran. "BBM naik, semua harga akan ikut naik. Tiket pesawat terbang makin mahal, ongkos taksi naik, banyak orang miskin hidupnya makin susah," katanya. Saya bilang, kalau memang semua harus naik, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Yang bisa kita lakukan adalah mengatur diri sendiri, misalnya menetapkan prioritas dalam mengatur keuangan dan itu harus dilakukan.
Tampaknya memang suram ya melihat keadaan negeri ini. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Negeri ini sangat kaya sebenarnya. Sayangnya, kekayaan itu tidak mengalir untuk mensejahterakan seluruh rakyat. Coba kalau negeri ini dkelola dengan benar, Indonesia bisa maju seperti Singapura, tapi dalam ukuran yang sangat raksasa.
Dalam keadaan sekarang, kita tidak mungkin meminta pemimpin kita untuk melakukan "Sim Salabim!" dan... semuanya beres. Tentu tidak. Negeri ini telanjur kusut. Tapi setidaknya, kita merindukan pemimpin yang bisa mengurai "benang-benang" kusut itu satu persatu. Kalau bisa demikian, pelan tapi pasti, keadaan negeri bertambah baik.
Negeri ini juga butuh teladan. Rasanya, rakyat tidak akan keberatan mengencangkan ikat pinggang, hidup dengan cara sederhana, seandainya para pemimpinnya juga demikian. Rakyat merindukan pemimpin yang cara hidupnya sederhana. Dengan begitu, rakyat akan makin hormat pada pemimpinnya.
Kembali ke realitas.. Orang-orang yang bekerja di bidang kreatif seperti saya pantas cemas. Misalnya saya yang bekerja di majalah anak. Sebenarnya, saya ingin sekali majalah yang saya kelola itu bisa dijual semurah mungkin, agar makin banyak anak-anak yang bisa membeli dan membacanya. Semakin banyak yang membaca, semakin baik. Karena apa yang dibaca anak sekarang, akan berdampak 25 tahun ke depan. Itu sebabnya anak-anak harus mendapatkan bacaan yang bagus, sedini mungkin. Tapi dengan kenaikan harga kertas dan BBM, mau tak mau perusahaan berhitung-hitung. Supaya tetap bertahan, harga majalah harus naik. Itu membuat saya sangat prihatin. Kertas berarti juga buku dan koran. Upaya mencerdaskan bangsa makin jauh dari harapan. Daya beli semakin menurun.
Saya juga sempat cemas, karena semua kenaikan ini mengancam program saya, membagikan buku-buku anak untuk anak-anak tidak mampu. Tahun 2006 saya sudah berhasil membagikan 1000 buku ke seluruh Indonesia. Tahun 2007 pun 1000 buku sudah tersebar. Tahun 2008, saya berencana menyumbangkan 2000 buku. Ternyata terjadilah kenaikan harga ini. Pikir-pikir.. jadi 2000 atau tetap 1000? Agak pusing memang, tapi ini harus jalan terus. Untunglah beberapa teman membantu program saya. Akhirnya tetap dengan kegiatan 2000 buku.
Apa yang saya lakukan mungkin tidak berarti banyak. Tapi saya sangat terkesan dengan kutipan puisi dari Mbah Dauzan (pemilik perpustakaan keliling, yang pernah saya kirimi buku). Kutipan puisinya kira-kira begini :
.. Daripada mengutuki kegelapan, lebih baik kita menyalakan pelita...
Seandainya semua orang bisa menyalakan pelita, kegelapan akan berganti terang. Ya, walau keadaan sesuram apapun, tetaplah semangat, tetaplah berkarya. Kata-kata itu juga buat diri saya sendiri, yang sering kehilangan semangat karena terpaan sekian kejadian. Hari esok yang cerah masih ada... semoga.
Teman-teman yang baik, saya meneruskan kabar dari Dian, kerabat saya yang tinggal di Surabaya. Dian ini membantu Tulip Foundation/Cleft Care Indonesia untuk menggalang dana/sponsorship. Tulip Foundation ini membantu anak-anak penderita bibir sumbing. Dalam waktu dekat ini Tulip Foundation mengadakan operasi massal untuk 70 pasien di Rumah Sakit Bakti Luhur, Malang. Sumbangan bisa dalam bentuk uang, berapa saja. Tapi katanya, akan lebih baik kalau rutin. Mereka menantikan partisipasi dari teman-teman dan kenalan, untuk ikut serta untuk menolong anak-anak ini. Buat teman-teman yang bersedia membantu, silakan hubungi : - Ibu Dian Kristiani email : diankrist@yahoo.com - dan Ibu Grace Tjandra : tulipindonesia@gmail.com Untuk mendapat keterangan lebih lanjut tentang kegiatan ini, silakan buka alamat website berikut http://www.tulip-foundation.org/
Saya punya kartu member sebuah departement store ternama. Barang-barang yang dijual di sana bagus dan relatif mahal. Bahkan buat seorang kenalan saya, harga-harga di sana tidak masuk akal. Sehingga untuk masuk ke sana pun dia anti. Duh.. padahal kan enggak perlu begitu, kan? Window shopping kan bagus juga, siapa tahu dapat ide buat tulisan. Apalagi profesi dia kan penulis. Suatu hari saya menerima SMS yang isinya mengatakan, departement store itu mengadakan acara diskon 50%-70%, khusus satu hari. Saya pikir asyik sekali, bisa membeli barang yang bagus, dengan harga setengah sampai sepertiganya. Kebetulan, saya perlu sepatu baru. Maka datanglah saya ke departement store tersebut. Tapi yang saya tidak terlalu suka dengan apa yang saya lihat. Tapi.. itu tentu bagus untuk bisnis departement store itu. Di sana banyak sekali orang memilih-milih barang. Para pramuniaga sibuk. Antrean di kasir seperti ular. Orang-orang keluar bukan cuma satu tas belanjaan, tapi tiga, empat, bahkan lima tas. Wuih, hebat! Banyak sekali ya orang mampu di Jakarta... Setelah beberapa detik saya berpikir, saya nyerah. Saya enggak bisa belanja dengan suasana seperti itu. Rasanya buang-buang waktu. Saya akhirnya melangkah ke toko sepatu yang lain. Nama dan merk tokonya sudah terkenal sejak dulu, saat Indonesia baru punya TVRI. Sepi sekali di sana. Saya masuk dan mendapat sambutan yang paling ramah. Dan.. saya mendapatkan sepatu yang bagus. Harganya tidak mahal dan itu awet sampai sekarang. Dengan pengalaman itu saya enggak terlalu tergiur dengan diskon-diskon macam itu (kecuali buat buku, ya). Malah saya pikir, bisa saja kita membeli barang yang sebetulnya tidak kita butuhkan. Tapi gara-gara diskon, kita jadi beli deh... Waaah, jangan sampai dompet jadi kosong gara-gara kena rayuan diskon.
Walaupun saat ini hati saya sedang senang (saya melihat yang indah-indah malam minggu ini), tapi belakangan ini saya dibuat jengkel dengan para penelepon yang tidak saya kenal. Serbuan mereka semakin gencar.
Entah dari mana, mereka dapat nomor telepon dan data-data saya. Para penelepon itu memperkenalkan diri dari berbagai bank, biro perjalanan, dan perusahaan penerbit kartu kredit. Umumnya mereka ingin : - menawarkan kartu kredit - menawarkan pinjaman - menawarkan fasilitas liburan dengan iuran tertentu - menawarkan asuransi - dll
Awal-awalnya saya tanggapi dengan sabar dan sopan. Saya masih mau mendengarkan apa yang mereka katakan. Tapi semakin sabar, semakin semangat mereka. Seiring dengan makin banyak telepon yang masuk ke HP, sekarang saya bersikap tegas, tapi tetap sopan. Itu sudah sangat mengganggu, karena bisa datang saat saya rapat dan deadline.
Ketika saya tanya, dari mana mereka memperoleh data-data saya? Mereka hanya mengatakan, "Data Ibu sudah ada pada kami. Dan saya bertugas menawarkan faslitas itu pada Ibu." Sebal, kan?
"Terima kasih, tapi saya tidak punya rencana untuk membuat kartu kredit lagi," kata saya. Betapa pun mereka membujuk, saya tetap bilang tidak. Begitu pun dengan penawaran-penawaran yang lain. Kadang-kadang, saya merasa kalau saya kelewat sopan, mereka enggak mengerti, kalau saya benar-benar enggak tertarik. Kadang-kadang, mereka memanfaatkan rasa tidak enak seseorang untuk menolak.
Tapi untuk hal-hal ini harus bilang tidak dan tidak. Saya harap, saya bisa menolak tanpa menyakiti hati mereka (mereka juga hanya menjalankan, kan?)
Setelah ngajar gitar seharian, lalu ketemu orang, Jubing memenuhi janjinya, pergi makan malam di luar dengan saya. Ya, walau tidak ke tujuan semula, karena jalanan macet. Tapi saya kasihan melihatnya, karena dia kelihatan capek dan enggak enak badan. Pulangnya, kami naik taksi resmi yang mangkal mal itu. Sopirnya baik. Tapi kok mengemudinya pelan banget, hati-hati, dan sering bertanya jalan. "Pak, tidak tahu jalan di daerah sini, ya?" tanya Jubing. "Tahu sih, Pak. Tapi kalau malam kurang jelas. Kalau masih siang sih tidak apa-apa," sahutnya. "Matanya minus, ya?" tanya saya. Sopir itu mengiyakan. Katanya, mata kiri dan kanannya minus lebih dari satu. "Makanya saya jalannya pelan-pelan," katanya. "Kok enggak pakai kacamata?" tanya saya. "Habis belum terbeli sih," sahutnya. Oo... Jubing yang tadinya terkantuk-kantuk dan enggak enak badan, kayaknya langsung sembuh dan waspada. Duh, perasaan jadi campur baur. Antara takut, kesal dan trenyuh. Takut kalau taksi itu tidak berjalan sebagai mana mestinya. Kesal, kok perusahaan taksi sebesar itu tidak memerhatikan kondisi kesehatan karyawannya. Mestinya kalau karyawannya belum mampu beli kaca mata, ya dibantu, misalnya diberi pinjaman lunak. Kan buat keselamatan. Jadi ingin tahu, berapa banyak ya, di Jakarta ini pengemudi yang sebenarnya rabun jauh, tapi tidak berkacamata? Trenyuh, ternyata penghasilan sopir taksi tidak mencukupi untuk membeli kaca mata. Kalau naik taksi, saya sering mendengar sopir taksi mengeluh, sekarang sulit hidup layak dari naik taksi. Kata seorang sopir taksi," Yang penting kebutuhan pokok terpenuhi. Kalau untuk sekolah anak, ya gimana nanti saja." Ada juga sopir taksi yang meminta pekerjaan pada saya, karena dari taksi hasilnya sedikiiit sekali. Saya bilang, saya enggak punya dan enggak perlu mobil, karena rumah saya kan di kota. Ke mana-mana gampang naik taksi atau angkot. Tapi dia tetep kekeuh minta pekerjaan, sampai-sampai saya jadi enggak enak hati. Di antar sopir taksi penderita rabun jauh, akhirnya sampai juga kami dengan selamat di tujuan. Saya ngasih uang lebih. Ah, andai tip yang dikumpulkan dari para penumpang bisa membuatnya membeli kaca mata baru. Saya sangat berharap, semuanya akan baik-baik saja buat taksi itu, orang, dan kendaraan lain di sekitarnya.
Tanggal 9 April lalu, orang yang saya sayangi berulang tahun. Tapi sampai malam harinya, saya tidak mengucapkan selamat ulang tahun. Bukannya tidak perhatian, tapi hari itu saya lupa kalau itu sudah tanggal 9. Saya pikir masih tanggal 8 April. SMS terus masuk ke HP-nya. Tapi saya juga enggak ngeh. Sampai akhirnya dia mengatakan," Kamu lupa ya, kalau hari ini saya ulang tahun?" katanya sambil tertawa. Ia sama sekali tidak kelihatan kesal. Gubrak! Rasanya kaget sekali. Langsung saja saya mengucapkan selamat dan mendoakannya agar dia selalu sehat dilimpahi segala kebaikan oleh Allah SWT. Esoknya, dia metnraktir saya makan. Kami memesan tiga jenis masakan, salah satunya Bakmi Ulang Tahun. Konon, kalau kita makan bakmi saat ulang tahun, kita akan panjang usia. Buat yang berulang tahun hari ini... Buat yang berulang tahun di Bulan April, Selamat Ulang Tahun. Semoga segala kebaikan terlimpah pada engkau semua.
 Maret lalu, saya pergi ke sebuah kafe. Tempat yang enak buat ngobrol-ngobrol sama sobat. Saya pesan minuman dan buah. Wuah.. sangat mengesankan. Buah-buahan itu ditata cantik. Ada pepaya, nenas, semangka, kiwi, buah naga, dan anggur. Tak lupa secangkir kecil saus mangga. Hmm.. enaaak. Bulan April, saya datang lagi ke sana. Lagi-lagi buat ngobrol sama sobat. Saya pesan minuman dan buah yang sama. Ketika buah dihidangkan, kok ada yang beda, ya? Saat itu yang disajikan nenas, melon, semangka, dan pepaya. Ya... walaupun masih ada saus mangganya. Walaupun masih tetap cantik. Kemana gerangan kiwi, buah naga, dan anggur? Apa di sana enggak ada standar, ya? Apa kokinya ganti? Apa persediaannya tidak ada? Tapi... itu kan kafe terkenal. Coba nanti Bulan Mei saya datang lagi. Apa buah yang disajikan akan berbeda?
Beberapa waktu yang lalu, saya makan siang dengan Anjar di "Kantin Sehat" dekat RCTI. Makanannya asyik, sayurannya segar, dan enggak terlalu mahal. Di sana juga ada macam-macam kolak. Teman-teman kantor sering menitip aneka kolak itu, kalau kami mampir di kantin itu.
Pulangnya, kolak yang kami beli dibungkus plastik warna hijau. "Wah, bagus sekali warnanya," puji saya. Langsung saja pelayannya menerangkan, kalau itu kantong plastik ramah lingkungan. Katanya, kalau ditimbun di tanah, bisa hancur dalam enam bulan. Wah, antara percaya dan tidak. "Memang sih, sedikit lebih mahal dari kantong plastik lainnya. Tapi ramah lingkungan, lho!" katanya. Kantong plastik itu namanya Bio Bag, bahan pembuatannya antara lain tanaman singkong tentu saja plus campuran lain-lain. Itu katanya. Wah, asyik juga ya, kalau bio bag ini memang sehebat itu. Apalagi kalau semua penjual menggunakan kantung plastik dengan teknologi sepert i ini. Bayangkan berapa banyak kerusakan lingkungan yang bisa diperlambat. Sekarang ini polusi plastik kan gila-gilaan. Hampir semua pelaku bisnis menggunakan plastik sebagai pembungkus. Padahal katanya, plastik baru hancur di tanah setelah ratusan tahun.
Apakah teman pernah menemukan atau tahu ada kantung plastik semacam ini?
Suatu siang saya mengunjungi teman saya, seorang editor di sebuah penerbit. Saya mampir ke mejanya. Suasananya sangat tenang, tanpa suara musik sedikit pun, tanpa suara orang mengobrol satu pun. Suasana yang sangat mendukung untuk konsentrasi dalam bekerja. Keheningan yang sangat kontras dengan suasana di luar kantor, yang hiruk pikuk dengan kemacetan di jalanan. Entah kenapa, saya merasa senang dengan suasana seperti itu. Saya rasa, dengan suasana setenang itu, ide-ide tulisan bisa berloncatan dengan bebas. Itu hanya contoh suasana di sebuah kantor. Di kantor-kantor lain, suasananya lain lagi. Ada yang tenang, bukan karena orangnya enggak suka musik. Tapi masing-masing menggunakan earphone, sehingga yang lain tak terganggu. Ada juga tempat yang selalu terdengar musik, hampir di sepanjang jam kantor. Kalau saya suka yang sedang-sedang saja. Tidak terlalu sepi, tapi juga tak terlalu ramai. Ada saat-saat saya suka mendengarkan musik, ada saat-saat saya tidak ingin mendengar apa-apa, kecuali konsentrasi pada pekerjaan. Kalau kantor sepi, saya kadang-kadang menyetel musik. Tapi kalau ada rekan yang kemudian menyetel musik sama kerasnya dengan saya, lebih baik saya matikan musik yang sedang saya putar, atau mengambil earphone. Saya enggak mau ada tabrakan suara dalam mendengar musik. Kalau seseorang menyetel musik, yang cukup keras untuk didengar semua orang, ada baiknya juga. Kalau lagunya bagus, orang akan bertanya-tanya, itu lagu apa ya.. Dan itu menambah perbendaharaan musik kita. Saya lumayan mengambil manfaat dari lagu-lagu yang diputar teman-teman. Saya jadi tahu siapa menyanyikan lagu apa. Masalah terjadi, kalau ada orang yang tidak suka lagu yang sedang diputar. Apalagi berulang-ulang. Bisa stres jadinya. Dan.. belum tentu lho, orang-orang mau berterus terang.. mungkin karena tidak enak. Maklum, orang Indonesia... umumnya punya perasaan yang sangat halus. Jadi saya rasa, dalam menyetel musik untuk kesenangan pribadi, ambil yang sedang-sedang saja. Kita bisa menikmati, teman-teman pun bisa menikmati. Namun membawa earphone sendiri adalah pilihan yang paling bijak. Karena kita bisa tetap fun, teman-teman pun demikian. Karena orang itu berbeda-beda, ada yang bisa bekerja dengan musik, ada juga yang tidak. Bagaimana suasana kerja di tempat kerja teman-teman? Apakah suka bekerja dengan musik atau dalam suasana yang tenang?
Saya pernah datang ke toko buku. Di sana ada kotak sumbangan buku yang tembus pandang. Yang saya tahu, kotak sumbangan buku itu menerima sumbangan buku untuk anak-anak. Karenanya, saya memasukkkan 20 buku cerita anak yang masih baru ke kotak itu. Saat itu saya melihat, yang ada di kotak itu kebanyakan bukan buku anak-anak. Tapi ada majalah orang dewasa, komik, dan buku pelajaran SMU. Itu juga buku-buku dan majalah lama. Beberapa hari kemudian saya datang lagi. Buku-buku yang berjejalan dalam kotak sudah diangkut. Dalam kotak itu hanya ada sedikit buku, pun tidak semuanya buku anak. Saya mengobrol dengan Pak Satpam yang ada di samping kotak. Kata Pak Satpam, buku-buku yang ada di kotak itu masih harus diseleksi sebelum disumbangkan. Itu karena banyak buku-buku yang bukan untuk anak. "Bahkan ada juga yang nyemplungin komik-komik yang jelas-jelas untuk orang dewasa," katanya. Bahkan ia menduga, orang asal menaruh majalah atau buku-buku ke kotak itu, biar rumahnya tidak penuh dengan majalah atau buku itu. Jadi bukan karena ingin menyumbang sesuatu yang berguna. Apa yang dikatakan Pak Satpam itu mungkin benar. Karena kotak itu isinya kebanyakan majalah dan buku untuk orang dewasa, ya? Entah apanya yang salah. Apa pesan yang ada di kota itu kurang jelas? Atau orang enggak tahu atau enggak peduli, ya? Apa pun, kehadiran kotak-kotak sumbangan buku tetap diperlukan. Walau teman saya sempat berujar,"Kamu (pengunjung toko buku) yang nyumbang, toko buku yang dapat nama." Wah, saya enggak setuju dengan pendapat teman saya. Menyumbang itu menyumbang, titik... dapat nama atau enggak. Mengharapkan nama atau pahala seharusnya tidak kita pikirkan, kalau kita berbuat kebaikan.
Minggu lalu cukup berat buat kesehatan saya. Cuaca tidak bersahabat... Saya flu berat! Minggu (9/3) sebetulnya tenggorokan saya sudah sakit. Tapi karena Jubing mengajak saya nonton Java Jazz, saya pergi juga. Lumayan... bisa nonton konser Dian Pramana Putra dan para seniman musik lain di sana. Seninnya saya ngantor, tapi sorenya badan meriang ditambah gejala flu yang lumayan komplet. Selasa benar-benar sakit. Rasanya jadi seperti naga, setiap hembusan napas rasanya panas sekali. Saya berharap, dengan istirahat di rumah, saya akan sembuh. Sepanjang hari dan sepanjang malam.. berbaring saja. Rabu ada undangan cek kesehatan dua tahunan dari kantor. Saya datang dan bertanya, apa kalau sedang flu boleh tetap cek kesehatan? Apakah hasilnya tidak terlalu beda? Katanya sih boleh.. makanya tetap saya ikuti. Cek kesehatan butuh waktu separuh hari dan badan memang lagi enggak enak. Jadinya rada-rada stres nunggunya, karena pesertanya banyak. Dokter yang memeriksa meminta saya ke poliklinik, karena suhu badan tinggi. Tapi karena dokter poli datangnya sore, sedangkan kepala sudah sangat pusing, jadi saya pulang. Saat lewat, di rumah tetangga, ada ibu tua penjual jamu. Saya lalu pesan jamu untuk menyembuhkan flu, ibu itu memberi saya jamu tolak angin yang agak pahit, tapi ditambah air jahe yang enak dan manis. Lalu saya pulang dan tidur. Pokoknya saya tidak mau memikirkan apa-apa, kecuali istirahat. Kamis, saya sudah bisa masuk, walau masih batuk-batuk. Kalau saya flu, saya lebih suka makan makanan yang bergizi dan minum minuman hangat, dibanding harus minum obat. Saya terharu melihat apa yang diletakkan teman saya di meja. Ada dua orang yang memberi saya olahan buah louhan kuo, yang katanya bagus untuk menyembuhkan sakit tenggorokan saat flu (Thanks Tomi and Mas Benny for your sweet attention). Jumat saya dan teman-teman pulang jam 9 malam karena deadline, tapi saya sudah bisa menyanyi-nyanyi. Wah, saya senang sekali menyadarinya. Kalau saya sudah mulai bersenandung, artinya saya akan segera sembuh. Sabtu dan Minggu nyanyian saya makin lancar dan menyenangkan, walau masih batuk-batuk. Hari ini saya merasa makin sehat, senang rasanya. Mudah-mudahan esok atau lusa sudah benar-benar sehat. Amin.. Cuaca memang sedang tidak menentu. Tapi.. semoga teman-teman tetap sehat walafiat. Amin..
Saya beberapa kali nonton film Winnie the Pooh. Film anak-anak yang sangat menarik, karena karakternya sangat beragam. Ada Winnie, beruang baik hati yang berotak kecil, ada Piglet yang kadang penakut, ada Rabbit yang pemarah, rajin, dan pandai, ada Eyoore yang apatis dan pesimis, dan ada burung hantu yang intelek, tapi sok tahu. Banyak kejadian menarik karena perbedaan sifat di antara mereka. Tapi ada satu hal yang saya senang. Tokoh-tokoh ceritanya digambarkan sportif. Mereka tak sungkan minta maaf. Mereka tak sungkan memuji. Tak jarang Winnie mengatakan, ia bangga pada teman-temannya, kalau mereka punya prestasi atau melakukan kebaikan. "I am very proud of you, Rabbit!" kata Winnie pada Rabbit, saat kelinci itu melakukan sesuatu yang pintar. Saya juga ingin mengatakan seperti itu pada teman-teman saya. Mereka adalah tim saya di majalah. Empat orang dari mereka mengikuti lomba logo di sebuah majalah anak (lombanya untuk intern grup yang dihuni banyak majalah dan bagian lain), dan empat-empatnya menang! Yang satu jadi juara utama. Yang tiga jadi pemenang hiburan. Mereka menyabet empat hadiah dari enam hadiah yang disediakan. Jadilah mereka menraktir kami makan-makan. Ya, setiap ada teman yang beruntung, kami jugalah kecipratan untung. Saya tak heran, kalau mereka menang. Mereka cowok-cowok muda yang cerdas. Mereka orang yang senantiasa belajar. The Need for Achievement mereka tinggi. Mereka tangguh dan selalu berusaha mencari jalan keluar dari setiap masalah yang dihadapi. Saya senang mengobrol bersama mereka. Karena mereka selalu berusaha berpikir positif. Selalu ada hal baru dari orang-orang yang gemar belajar seperti mereka. Saya sering mendapat info buku yang menarik dari mereka. Senangnya saat membahas isi buku The Secret atau membahas acaranya Oprah Winfrey atau Mario Teguh (Bussiness Talk- O Channel). Saya juga bisa tertawa sampai sakit perut mendengar pengalaman mereka yang lucu-lucu. Mereka punya banyak mimpi yang ingin diwujudkan. Impian yang juga menginspirasi saya. Dan saya yakin, orang-orang seperti mereka bisa mencapainya.
Teman baik saya harus dioperasi dua kali dalam sebulan. Setelah operasi pertama, saya menjenguk dia di rumahnya. Teman saya itu kelihatan ceria walau habis operasi. Dia banyak bercerita ketika saya dan dua teman berkunjung. Setelah operasi kedua, saya menjenguk lagi di rumah sakit. Teman saya menyambut ramah siapa pun yang berkunjung. Namun dengan getir dia mengatakan, semua atasannya belum juga menjenguknya. " Mereka sepertinya tidak punya hati," katanya. Saya yakin, ucapan itu datang dari hati. Saya bisa mengerti perasaannya. Operasinya tidak main-main dan sangat menguras biaya, tenaga, dan perasaan. Saya juga pernah sakit dan butuh pemulihan yang lama, dan kurang lebih mengalami hal yang sama dengan keluhan teman saya. Tapi saya tidak terlalu mempermasalahkan. Yang penting, orang-orang yang saya sayangi ada di sekitar saya. Saya tahu, orang yang sakit itu sangat sensitif. Dia bisa sangat tersentuh dengan perhatian sekecil apa pun atau merasa terluka dengan pengabaian sekecil apa pun. Sibuk, sibuk, dan sibuk.. orang-orang seperti saya dan teman saya senantiasa dikejar deadline, bukan cuma pekerjaan di redaksi, juga hal-hal lain di luar pekerjaan keredaksian. Apalagi orang-orang dengan jabatan-jabatan yang lebih hebat. Tapi kalau anggota keluarga kita ada yang jatuh sakit, sesibuk apa pun kita, pasti akan menyisihkan waktu untuk keluarga kita. Entah menemani, menjenguk, menelepon, atau sekadar SMS just to say hi... Seandainya kita memperlakukan teman kita yang sakit seperti keluarga kita, kita tentu akan menyempatkan waktu untuk dia. SMS cukup untuk menenangkan hatinya. Telepon akan lebih menyenangkan dirinya. Dan menjenguk langsung akan membahagiakan dirinya. Saya selalu berusaha menjenguk, kalau ada teman yang sakit. Saya berharap, dia tahu, ada teman-teman yang peduli dan sangat berharap akan kesembuhannya. Dengan begitu dia bisa pulih lebih cepat.
Sebulan yang lalu, grup perusahaan tempat saya bekerja mengadakan syukuran tahunan. Saya datang memenuhi undangan. Ada rentetan acara digelar, standarlah. Tapi acaranya menarik, karena menampilkan pantun jenaka dari Kalimantan, paduan suara, dan dua penyanyi yang sudah terkenal. Mereka adalah Ike Nurjanah dan Kris Dayanti (KD). Ike Nurjanah, tentunya punya penggemar semdiri di antara banyak karyawan. Buktinya banyak yang joged saat Ike menyanyi. Saya sih enggak suka dangdut, tapi tetap kagum mendengar suara Ike dengan cengkok dangdutnya. Suara Ike dashyat! Yang membuat saya ngeri, adalah polah cowok-cowok yang naik ke panggung menemani Ike berjoged. Aduuuh... agresif sekali. Kasihan deh Ikenya. Tapi.. begitulah dangdut. Krisdayanti? Okelah, saya beberapa kali melihat KD di televisi. Suara KD bagus, penampilannya menarik, tapi ya.. menurut saya seorang penyanyi memang harus tampil seperti itu. Tapi setelah melihatnya tampil live, saya betul-betul kagum melihat penampilannya. Mengapa begitu? - Suara KD sangat prima, tidak ada falsnya, walau bergerak ke sana kemari, dan bukan lipsinc, lho! Antara lain ia menyanyi Mencintaimu, Pilihlah Aku, dan I'm Sorry Goodbye. - Ia sangat komunikatif dengan penonton, menyapa, menyentuh, dan mengajak menyanyi beberapa penonton. Ada adegan yang mengesankan teman-teman saya. Ia menghampiri seorang laki-laki yang sedang makan. Lalu KD meminta sumpit itu dan menyuapinya. Hebatnya, ia terus menyanyi dengan suara primanya. Karyawan itu tentu tak mengira KD akan menghampirinya. Akhirnya dengan malu-malu ia makan sambil disuapi KD. Hmm.. pasti banyak karyawan cowok yang iri padanya he he... - Public speaking KD oke banget, ia kelihatan cerdas dan mengetahui apa-apa yang sedang diberitakan. Sempat disinggung KD, kisah yang pernah dimuat Kompas, tentang seorang tukang gorengan yang bunuh diri, karena situasi tak berpihak padanya, walau dia sudah berusaha mencari nafkah dengan cara halal. - Kepercayaan diri yang pas (tidak kurang atau lebih) selalu membuat seseorang menarik. - KD cantik sekali, penampilannya bagus. Saya pernah bertemu KD bertahun-tahun yang lalu, saat saya masih jadi wartawan baru. Saat itu saya jarang bertemu artis, karena saya bertugas di desk liputan hukum dan kriminalitas. Saat itu Krisdayanti datang ke kantor. Rupanya ia berteman dengan seorang teman wartawan. Saya hanya tersenyum padanya dan dia tersenyum pada saya. "Oh, ini yang namanya Krisdayanti," pikir saya. Saat itu tampak belia, berkulit coklat, dan berambut pendek. Gadis yang kecantikannya alami. Sekarang KD sudah banyak berubah, makin cantik dan glamour.  Saya jadi teringat cerita "Itik Kecil Buruk Rupa" karya HC Andersen. Itik itu tidak tahu, kalau ia sebenarnya seekor angsa, yang akhirnya menjelma menjadi angsa yang sangat cantik. Apakah KD seperti itu? tentu saja tidak. Menurut saya, KD itu itik kecil yang manis, yang berubah menjadi angsa putih yang sangat cantik. KD memang seorang diva.
 Selama lima hari, keponakan saya Puput (4 tahun), ditinggal ibunya dinas ke Bandung. Adik Puput dititipkan di rumah ibu saya di Bandung. Tinggallah Puput bersama para pengasuhnya dan ayahnya kalau sudah pulang ngantor. Adik saya menitipkan pengawasan Puput pada saya, walau hanya lewat telepon. Jadilah saya menelepon Puput beberapa kali sehari, sekadar menanyakan kabar. Adakalanya dia mau menjawab, kadang-kadang dia tidak mau menerima telepon. Dari pengasuhnya saya dengar, dia uring-uringan terus. Kadang-kadang marah, kadang-kadang menangis. Mungkin dia kesepian, karena adiknya, yang selama ini jadi teman bermain, tidak ada. Dan ibunya yang biasanya sudah ada di sore hari, juga tidak ada. Puput sempat meminta saya datang, tapi saya tidak bisa karena banyak pekerjaan. Tapi saya janji, esok harinya akan mengajak dia main ke kantor saya. Akhirnya saya bereskan pekerjaan, agar leluasa mengajak Puput. Esoknya, saya menelepon pengasuh Puput. Katanya, Puput sedang tidur. Tapi ia minta dibangunkan kalau saya datang. Akhirnya hari itu saya jemput Puput dan saya bawa ke kantor. Saya ajak dia ke kantin untuk makan siang. Dia ingin makan bakso. "Mau berapa baksonya? Dua atau tiga?" tanya saya. "Lima," sahutnya. Puput kelihatan senang. Tapi dia menyisakan dua bakso. Akhirnya saya yang menghabiskannya. Untung baksonya enak. Setelah makan, saya ajak Puput ke tempat kerja saya. Di sana saya kenalkan dia pada semua teman saya. Puput sangat sopan dan kalem. Padahal aslinya dia sangat aktif, suka tertawa, dan sangat ceria. Lalu saya bawa dia ke meja kerja saya. Saya bilang, di komputer saya banyak gambar. "Gambar apa yang ingin Puput lihat?" tanya saya. "Cinderella," katanya. Akhirnya saya buka google dan saya search gambar Disney Princess. Keluarlah gambar-gambar para putri yang luar biasa banyak. Puput senang sekali. Ia juga senang saat saya menemukan aneka kue foto kue tart yang cantik-cantik. Setelah main komputer, saya ajak Puput ke bagian penjualan majalah. Saya membelikan dua majalah untuknya. Lalu saya ajak dia berkunjung ke teman-teman saya di bagian lain. Saya ke tempat Mbak Etty, di sana Puput bisa bermain perosotan. Itulah satu-satunya tempat di gedung kantor kami, yang punya perosotan. Jadi kalau ada anak-anak yang berkunjung, itu jadi tempat bermain yang menyenangkan. Lalu Puput saya kenalkan dengan Mbak Luci, yang akhirnya memberinya majalah-majalah Princess kesukaannya dan bando cantik yang langsung dipakainya. Lalu saya kenalkan Puput pada Tomi, yang putih, tinggi, dan besar seperti polar bear. Tomi pun memberi Puput banyak majalah. Lalu Puput bertemu Mbak Ndari. Mbak Ndari pun memberi beberapa majalah buat Puput. Pokoknya, hari itu banyak yang memberi Puput oleh-oleh, sampai berat membawanya. Dari tempat kerja saya, Puput menemukan diary bergambar Cinderella milik saya. Diary itu masih kosong, tapi sudah saya beri nama. Puput bertanya, apa ia boleh membawa diary itu? Sebetulnya sayang sih, melepas diary yang cantik itu. Tapi.. akhirnya saya relakan diary itu menjadi milik Puput. Belakangan saya tahu, kalau diary itu sekarang menjadi benda kesayangan ponakan saya. Syukurlah. Rupanya Puput sangat terkesan dengan kunjungan ke tempat kerja saya. Esok dan esoknya lagi, dia tidak uring-uringan. Dia bercerita banyak tentang pengalamannya pada para pengasuhnya, pada ayahnya, dan dia masih punya segudang cerita untuk ibu dan adiknya, saat mereka pulang.
| |