Blog EntryRayuan DiskonMay 4, '08 8:58 AM
for everyone

Saya punya kartu member sebuah departement store ternama. Barang-barang yang dijual di sana bagus dan relatif mahal. Bahkan buat seorang kenalan saya, harga-harga di sana tidak masuk akal. Sehingga untuk masuk ke sana pun dia anti. Duh.. padahal kan enggak perlu begitu, kan? Window shopping kan bagus juga, siapa tahu dapat ide buat tulisan. Apalagi profesi dia kan penulis.

Suatu hari saya menerima SMS yang isinya mengatakan, departement store itu mengadakan acara diskon 50%-70%, khusus satu hari. Saya pikir asyik sekali, bisa membeli barang yang bagus, dengan harga setengah sampai sepertiganya. Kebetulan, saya perlu sepatu baru. Maka datanglah saya ke departement store tersebut.

Tapi yang saya tidak terlalu suka dengan apa yang saya lihat. Tapi.. itu tentu bagus untuk bisnis departement store itu. Di sana banyak sekali orang memilih-milih barang. Para pramuniaga sibuk. Antrean di kasir seperti ular. Orang-orang keluar bukan cuma satu tas belanjaan, tapi tiga, empat, bahkan lima tas. Wuih, hebat! Banyak sekali ya orang mampu di Jakarta...

Setelah beberapa detik saya berpikir, saya nyerah. Saya enggak bisa belanja dengan suasana seperti itu. Rasanya buang-buang waktu. Saya akhirnya melangkah ke toko sepatu yang lain. Nama dan merk tokonya sudah terkenal sejak dulu, saat Indonesia baru punya TVRI. Sepi sekali di sana. Saya masuk dan mendapat sambutan yang paling ramah. Dan.. saya mendapatkan sepatu yang bagus. Harganya tidak mahal dan itu awet sampai sekarang.

Dengan pengalaman itu saya enggak terlalu tergiur dengan diskon-diskon macam itu (kecuali buat buku, ya). Malah saya pikir, bisa saja kita membeli barang yang sebetulnya tidak kita butuhkan. Tapi gara-gara diskon, kita jadi beli deh... Waaah, jangan sampai dompet jadi kosong gara-gara kena rayuan diskon.

 


11 CommentsChronological   Reverse   Threaded
diansya wrote on May 4
Iya nih mbak Renny..
Penyakit ibu-ibu hehe..Kalau lihat diskon matanya ijo. Suka bikin belanja di luar anggaran.
yaniar wrote on May 4
Mata diskonan, itu juga "penyakit" yang sedang saya lawan :)
inci73 wrote on May 4
hiks... malah sampai kecopetan gara2 belain mau dapat barang diskon sampai rela ngantri panjang*pengalamanku minggu lalu*:-(
ceumimin wrote on May 4
Harus rajin nata diri pokona mah..
Discount, kadang jadi kata tersendiri bagi saya, harga dinaikan dulu baru di press sedemikian rupa...
Tapi kenapa yah, tiap denger kata discount, lgs kalkulasi uang yang muncul, jadi berebut barang, padahal tak penting2 amat...
yokekomik wrote on May 4
mbak Renny, aku juga termasuk yang mata diskonan sehingga mungkin termasuk cewek modis... MOdal DISkon! hahaha...
tapi tergoda diskon yang gak pernah aku sesali kalo beli adalah diskonan buku, hehehe...
yaniar wrote on May 5
inci73 said
hiks... malah sampai kecopetan gara2 belain mau dapat barang diskon sampai rela ngantri panjang*pengalamanku minggu lalu*:-(
Wah, ikut prihatin, Mbak. Semoga apa yang sudah hilang diganti dnegan yang lebih baik.
yaniar wrote on May 5
Discount, kadang jadi kata tersendiri bagi saya, harga dinaikan dulu baru di press sedemikian rupa...
Iya, saya rasa ini pernah terjadi.
yaniar wrote on May 5
cewek modis... MOdal DISkon! hahaha...
Ha ha.. banyak yang seperti itu :)
hadiningrum wrote on May 6
Aku memang suka yang diskon Ren. Terutama kalau untuk beli baju di sini. Kalau enggak pas lagi sale --summer sale atau winter sale-- enggak kebeli sih. Muahallllll buanget. Tapi di sini salenya cukup lama kok enggak cuma sehari doang. Jadi mesti lagi sale ya enggak sampe ngantri berular-ular.
Comment deleted at the request of the author.
yaniar wrote on May 8, edited on May 8
Diskon memang sangat menolong ya , Ning. Apalagi Nining tinggal di Inggris yang segalanya serba mahal.

Tapi diskon yang diceritakan di atas itu memang cuma satu hari. Tujuannya menjual sebanyak mungkin barang dalam waktu singkat. Dan itu berhasil, barang-barang diserbu para pembelanja.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.