Saya punya kartu member sebuah departement store ternama. Barang-barang yang dijual di sana bagus dan relatif mahal. Bahkan buat seorang kenalan saya, harga-harga di sana tidak masuk akal. Sehingga untuk masuk ke sana pun dia anti. Duh.. padahal kan enggak perlu begitu, kan? Window shopping kan bagus juga, siapa tahu dapat ide buat tulisan. Apalagi profesi dia kan penulis.
Suatu hari saya menerima SMS yang isinya mengatakan, departement store itu mengadakan acara diskon 50%-70%, khusus satu hari. Saya pikir asyik sekali, bisa membeli barang yang bagus, dengan harga setengah sampai sepertiganya. Kebetulan, saya perlu sepatu baru. Maka datanglah saya ke departement store tersebut.
Tapi yang saya tidak terlalu suka dengan apa yang saya lihat. Tapi.. itu tentu bagus untuk bisnis departement store itu. Di sana banyak sekali orang memilih-milih barang. Para pramuniaga sibuk. Antrean di kasir seperti ular. Orang-orang keluar bukan cuma satu tas belanjaan, tapi tiga, empat, bahkan lima tas. Wuih, hebat! Banyak sekali ya orang mampu di Jakarta...
Setelah beberapa detik saya berpikir, saya nyerah. Saya enggak bisa belanja dengan suasana seperti itu. Rasanya buang-buang waktu. Saya akhirnya melangkah ke toko sepatu yang lain. Nama dan merk tokonya sudah terkenal sejak dulu, saat Indonesia baru punya TVRI. Sepi sekali di sana. Saya masuk dan mendapat sambutan yang paling ramah. Dan.. saya mendapatkan sepatu yang bagus. Harganya tidak mahal dan itu awet sampai sekarang.
Dengan pengalaman itu saya enggak terlalu tergiur dengan diskon-diskon macam itu (kecuali buat buku, ya). Malah saya pikir, bisa saja kita membeli barang yang sebetulnya tidak kita butuhkan. Tapi gara-gara diskon, kita jadi beli deh... Waaah, jangan sampai dompet jadi kosong gara-gara kena rayuan diskon.