Pagi ini tukang koran mengantarkan Kompas. Langsung terbaca headline utama..
Wapres : BBM Naik Akhir Mei
Jubing yang akan pergi mengajar gitar, sempat melihat koran. "BBM naik, semua harga akan ikut naik. Tiket pesawat terbang makin mahal, ongkos taksi naik, banyak orang miskin hidupnya makin susah," katanya. Saya bilang, kalau memang semua harus naik, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Yang bisa kita lakukan adalah mengatur diri sendiri, misalnya menetapkan prioritas dalam mengatur keuangan dan itu harus dilakukan.
Tampaknya memang suram ya melihat keadaan negeri ini. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Negeri ini sangat kaya sebenarnya. Sayangnya, kekayaan itu tidak mengalir untuk mensejahterakan seluruh rakyat. Coba kalau negeri ini dkelola dengan benar, Indonesia bisa maju seperti Singapura, tapi dalam ukuran yang sangat raksasa.
Dalam keadaan sekarang, kita tidak mungkin meminta pemimpin kita untuk melakukan "Sim Salabim!" dan... semuanya beres. Tentu tidak. Negeri ini telanjur kusut. Tapi setidaknya, kita merindukan pemimpin yang bisa mengurai "benang-benang" kusut itu satu persatu. Kalau bisa demikian, pelan tapi pasti, keadaan negeri bertambah baik.
Negeri ini juga butuh teladan. Rasanya, rakyat tidak akan keberatan mengencangkan ikat pinggang, hidup dengan cara sederhana, seandainya para pemimpinnya juga demikian. Rakyat merindukan pemimpin yang cara hidupnya sederhana. Dengan begitu, rakyat akan makin hormat pada pemimpinnya.
Kembali ke realitas.. Orang-orang yang bekerja di bidang kreatif seperti saya pantas cemas. Misalnya saya yang bekerja di majalah anak. Sebenarnya, saya ingin sekali majalah yang saya kelola itu bisa dijual semurah mungkin, agar makin banyak anak-anak yang bisa membeli dan membacanya. Semakin banyak yang membaca, semakin baik. Karena apa yang dibaca anak sekarang, akan berdampak 25 tahun ke depan. Itu sebabnya anak-anak harus mendapatkan bacaan yang bagus, sedini mungkin. Tapi dengan kenaikan harga kertas dan BBM, mau tak mau perusahaan berhitung-hitung. Supaya tetap bertahan, harga majalah harus naik. Itu membuat saya sangat prihatin. Kertas berarti juga buku dan koran. Upaya mencerdaskan bangsa makin jauh dari harapan. Daya beli semakin menurun.
Saya juga sempat cemas, karena semua kenaikan ini mengancam program saya, membagikan buku-buku anak untuk anak-anak tidak mampu. Tahun 2006 saya sudah berhasil membagikan 1000 buku ke seluruh Indonesia. Tahun 2007 pun 1000 buku sudah tersebar. Tahun 2008, saya berencana menyumbangkan 2000 buku. Ternyata terjadilah kenaikan harga ini. Pikir-pikir.. jadi 2000 atau tetap 1000? Agak pusing memang, tapi ini harus jalan terus. Untunglah beberapa teman membantu program saya. Akhirnya tetap dengan kegiatan 2000 buku.
Apa yang saya lakukan mungkin tidak berarti banyak. Tapi saya sangat terkesan dengan kutipan puisi dari Mbah Dauzan (pemilik perpustakaan keliling, yang pernah saya kirimi buku). Kutipan puisinya kira-kira begini :
.. Daripada mengutuki kegelapan, lebih baik kita menyalakan pelita...
Seandainya semua orang bisa menyalakan pelita, kegelapan akan berganti terang. Ya, walau keadaan sesuram apapun, tetaplah semangat, tetaplah berkarya. Kata-kata itu juga buat diri saya sendiri, yang sering kehilangan semangat karena terpaan sekian kejadian. Hari esok yang cerah masih ada... semoga.
 | mbak Renny, kalau saja pemerintah terbuka dengan keadaan keuangan negara yang sebenarnya, dan tidak memaksakan keinginannya saja.. saya pikir tidak bakal banyak orang miskin di negeri kita ini, tetapi karena negara kita ini sistem ekonominya ngga jelas lagi.. maka makin terpuruk lah orang-orang miskin ...
saya sepakat dengan mbak renny.. sudah saatnya kita menjadi pelita buat, tidak lagi mengutuki kegelapan... oh ya, saya masih punya janji yg belum disampaikan ke mbak renny, sebenarnya sudah ada beberapa daftar /list organisasi yg seperti diminta, tetapi saya harus pastikan dulu, karena ada beberapa perubahan yg sangat cepat, dulunya buka taman bacaan, terus tutup karena ngga ada biaya operasional.
semoga... kita masih tetap bisa berbuat yg terbaik dalam kondisi negara yang makin hari makin aneh ini.. |
 | betul mbak Renny ... kita perlu menyalakan pelita biar kecil, tapi bila semua orang melakukannya mungkin yang gelap pun jadi terasa terang |
 | derni wrote on May 11, edited on May 11 pelita-pelita kecil menyatu menerangi jagat |
 | bener mbak, lebih baik terus berbuat dan mengurangi mengeluh ya...mudah2an rasa optimis bisa menular pd semua orang di sekitar kita.. |
 | Setuju Renny, di balik segala kemuraman, rasa optimisme jangan sampat terpupuskan. Karena rasa optimisme yang akan menjaga kita untuk tetap berjuang demi masa yang lebih baik. terus berjuang Renny...doaku menyertaimu. |
 | Terima kasih doanya, Ning. Itu saya butuhkan :D |
 | Ayo tetap SEMANGAT :-D *walo sedang sedih sekalipun, huhuhuhuhu...* |
| |