Jalan raya di depan kantor saya lumayan menakutkan untuk disebrangi. Sudah lama kami merindukan tempat penyeberangan jalan. Usulan sudah dilontarkan. Tapi tetep saja keadaan enggak berubah. Katanya, tempat penyeberangan jalan terlalu dekat dengan lampu merah. Lampu merah? Itu bukan lampu merah. Itu tidak sepenuhnya lampu merah. Karena separuh jalan lampunya kuning kedip-kedip. Kalau mau menyeberang harus ekstra hati-hati. Kasihan orang-orang yang sedang sakit, sudah tua, atau yang membawa anak-anak. Kalau saya sangat pusing, saya enggak berani nyeberang. Lebih baik naik taksi atau angkot walau cuma buat puter balik dan dekat. Coba tempat itu 100% lampu merah, pasti lebih baik walau tidak 100% aman, karena selalu saja ada yang coba menerobos lampu merah.

Ketika jalan depan kantor menjadi salah satu koridor busway, kami bertanya-tanya, di manakah letak haltenya. beberapa waktu kemudian kami tahu, letaknya tak jauh dari kantor kami. Wah, saya dan teman-teman senang sekali. Itu berarti, kami tak akan jauh dari tempat penyeberangan jalan.

Tapi belakangan kami tahu, kalau halte di dekat kantor kami tak memakai tempat penyeberangan jalan. Saya pernah tanya pada salah seorang petugas di sana, dia menjawab," tempat ini terlalu sempit untuk dibuat tempat penyeberangan jalan." Benarkah? Jawaban yang cukup meragukan. Saya dan teman-teman sering melintasi jalan antara jalan Panjang (daerah RCTI) dan Lebak Bulus, semua hatle busway ada tempat penyeberangannya. Kami juga melihat trotoar-trotoar di sepanjang jalan. Ada yang sangat sempit. Dan.. di sana dibangun jembatan penyeberangan! Kok di dekat kantor kami tidak, ya? Apa pertimbangannya? Padahal halte yang tak ada jembatan penyeberangannya ini adalah daerah perkantoran yang sibuk. Ada RCTI, Wisma AKR, Gedung Gramedia, Multikon, dan banyak lagi.

Harapan yang menggunung, perlahan memudar. Keadaan akan tetap sama dalam menyeberang jalan. Atau tidak? Hadirnya busway pasti akan punya cerita sendiri. Hilang sudah harapan untuk bisa menyanyi sambil menyeberang. Bahkan teman saya ingin menyeberang sambil bersiul, tanpa rasa takut. Dan itu masih belum mungkin, kecuali keadaan berubah.

Dan... pertugas berseragam biru di kantor kami akan tetap sibuk, menyeberangkan para ibu yang ingin menyeberang (kalau bapak-bapak kayaknya gengsi ya minta tolong mereka). Kasihan mereka, setiap saat mempertaruhkan nyawa untuk menyeberangkan orang-orang. Ya, walau itu bagian dari tugas mereka.

Mengecewakan memang. Tapi  saya tetap menyimpan harapan, tempat penyeberangan yang aman dan nyaman akan ada di sana.


10 CommentsChronological   Reverse   Threaded
udintpi wrote on May 15
hmm...menarik juga buat ide liputan mbak renny.
saya kerap melintasi jalan panjang tapi dengan motor, makin semrawut ya...
yaniar wrote on May 15, edited on May 15
Iya nih... coba liput deh, siapa tahu ada perhatian. Thanks Mas Udin :)
cahayahati wrote on May 15, edited on May 15
hmmmmm .... menyebrang susah, menyetir susah, meng-angkot, ngojek juga susah jadi tampaknya memang lalu lintasnya sudah akut dan repot ya .... Mbak Renny kalau gitu lebih baik bersiul saja di kamar mandi, pasti amannya .. ;-)
ciciatjeh wrote on May 15
nyeberang sambil bersiul.. enaknya di kampung saya Mbak..
dijamin... cuma kalo gajah lewat aja, baru kita sebaiknya jauh-jauh ngga usah bersiul apa lagi nekad keluyuran di jalan...
kalau ngga bisa nyeberang sambil bersiul di jakarta.. kok ndak aneh yaa? hehehee... semoga segera dibangun jembatan penyeberangan..
hadiningrum wrote on May 15
Ati-atik ya Ren.....Ya mudah-mudahan harapan Renny bisa terpenuhi.
amorita2005 wrote on May 16
Di Jakarta, yang namanya to be able to walk..emang sebuah kemewahan ya Ren?
yaniar wrote on May 23
Mbak Renny kalau gitu lebih baik bersiul saja di kamar mandi, pasti amannya .. ;-)
He he sudah pasti :D
yaniar wrote on May 23
yeberang sambil bersiul.. enaknya di kampung saya Mbak..
dijamin... cuma kalo gajah lewat aja, baru kita sebaiknya jauh-jauh ngga usah bersiul apa lagi nekad keluyuran di jalan...
Wah, asyik... kapan mampir ke sana, ya? Lihat gajah lewat :D
yaniar wrote on May 23
Amin, amin, amin...
yaniar wrote on May 23
Di Jakarta, yang namanya to be able to walk..emang sebuah kemewahan ya Ren?
Ya... begitu deh :(

Tapi kan harus selalu punya harapan untuk keadaan yang lebih baik :)
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.